Sistem Manajemen K3 Brantas Abipraya di Proyek Rusun Tanjung Barat

11 Juli 2019


PT Brantas Abipraya (Persero) tengah menyelesaikan proyek Transit Oriented Developed (TOD) Rusun Stasiun Tanjung Barat. Hunian vertikal yang dibangun di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) ini ditargetkan rampung Oktober 2020 mendatang.

Dibangun di lahan seluas 1,5 hektar, hunian berkonsep Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) serta Apartemen Sederhana Milik (Anami) merupakan hasil sinergi Perusahaan Umum (Perum) Perumahan Nasional (Perumnas) sebagai pemilik serta PT Brantas Abipraya sebagai kontraktor.

Dari tiga tower yang dibangun, satu tower dibangun setinggi 23 lantai berkonsep Rusunami dan dua tower lainnya akan dibangun 29 lantai untuk Anami. Secara total, ketiga tower itu akan berisi 1.232 unit dengan 298 unit Rusunami dan 934 unit Anami.

Terkait penerapan dan mutu Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di Brantas Abipraya, Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (A2K4) Indonesia pada Senin (8/7) siang mengunjungi proyek tersebut.

Selain perwakilan dari para pengurus A2K4 Indonesia, turut hadir pula perwakilan dari Perusahaan Umum Perumahan Nasional (Perumnas) selaku pemilik proyek, serta perwakilan dari konsultan perencana. Senior Manager Departemen QHSE Brantas Abipraya Wahyu Herry Sasongko juga hadir mendampingi rombongan.

Herry mengatakan kunjungan itu merupakan bentuk ketertarikan A2K4 tentang bagaimana penerapan dan mutu SMK3 di PT Brantas Abipraya. “Setelah melihat salah satu proyek Brantas Abipraya, pihak A2K4 tertarik untuk mempelajari bagaimana penerapan SMK3 konstruksi, khusunya proyek TOD ini yang terkait dengan pengembangan dari rusunami yang nanti terkait dengan fasilitas umum, yakni Stasiun Tanjung Barat,” jelasnya.

Ia menambahkan, A2K4 juga ingin mengetahui metode apa yang digunakan pada proyek TOD Rusun Tanjung Barat ini hingga terlihat rapi dan terkendali.

“Quality, Health, Safety, Environment (QHSE) khususnya di Abipraya dan di proyek-proyek konstruksi pada umumnya memang sudah suatu tuntutan untuk bagiamana mejamin keselamatan kerja bagi karyawan dan pekerja,” ujar Herry.

Ia menerangkan, Brantas Abipraya sendiri tak mau tertinggal dalam upaya-upaya penerapan sistem manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), khususnya di proyek-proyek konstruksi.

“Berbagai macam metode kerja baru, inovasi-inovasi baru tentang SMK3 juga kami terapkan di sini, supaya Abipraya sejajar dengan mitra konstruksi lainnya terutama dalam hal penerapan SMK3 ini,” jelas Herry.

Saat ini Herry mengatakan, Brantas Abipraya juga sudah melakukan ekspansi ke pasar minyak dan gas. “Dibuktikan dengan adanya sertifikasi dari Pertamina dan Pupuk Kaltim, adalah wujud bahwa eksternal itu sudah mengakui kinerja SMK3 di proyek-proyek di lingkungan Brantas Abipraya,” pungkasnya.